Minggu, 20 Mei 2012

ASUMSI-ASUMSI DASAR NLP.


KESELARASAN ASUMSI-ASUMSI DASAR NLP
(PRESUPPOSISI OF NLP) DENGAN NILAI-NILAI ISLAM


1.Peta bukanlah wilayahnya ( The Map is not Therotery )

Setiap manusia menyerap informasi dari lingkungannya melalui Panca indranya, lebih dari 2 (dua) juta informasi setiap hari. Informasi itu kemudian diolah oleh pikiran yang hasilnya berupa Peta pikiran (Mind Map). Dalam berinteraksi dengan alam, Orang-orang merespon peta pikirannya ( realitas internal ) bukan merespon realitas yang sebenarnya ( realitas eksternal ), apa yang ada dalam peta pikiran kita, itulah yang kita respon, yang sangat mungkin tidak sesuai dengan realitas eksternalnya, atau dengan kata lain, interpretasi atau respon kita tentang realitas eksternal, bukan realitas itu sendiri, karena kita merespon realitas yang ada dalam pikiran kita ( realitas internal ), seperti apa kita membuat map ( peta ) pada pikiran kita tentang suatu informasi/peristiwa, seperti itulah respon kita, yang sangat mungkin sangat jauh dari realitas eksternalnya.
Respon seseorang terhadap map yang ada dalam pikirannya tergantung oleh 3 (tiga) hal, yaitu Pengalaman, Keyakinan, dan Nilai-nilai yang ada pada diri orang tersebut. Itulah sebabnya Respon seseoarang terhadap realitas yang sama sangat dimungkinkan berbeda-beda, hal ini dikarenakan pengetahuan, keyakinan dan Nilai-nilai yang ada pada diri seseorang belum tentu sama dengan yang dimiliki oleh orang lain. Belajar NLP adalah belajar tentang memahami dan mengubah peta pikiran ( realitas internal ), yang pada gilirannya dapat mengubah persepsi tentang realitas eksternalnya..
Dalam kenyataan hidup seseorang, orang yang sejak kecil hanya dikenalkan oleh lingkungannya bahwa warna bunga itu hanya warna merah ( pengalaman ), maka terbentuklah peta didalam pikirannya bahwa setiap bunga berwarna merah, maka ketika ia diberikan bunga warna kuning, ia merespon sesuai peta yang ada pada pikirannya, karena yang ada bahwa warna bunga hanya merah, warna apapun bunga yang dilihatnya, ia akan mengatakan bahwa bunga tersebut berwarna merah, hal ini menunjukkan bahwa seseorang merespon peta yang ada dalam pikirannya, sesuai dengan pengalamannya, bukan merespon realitasnya.
Dalam kehidupan sosial seorang manusiapun banyak sekali kita jumpai phenomena ini, katakanlah seseorang yang memiliki perilaku tertentu, secara umum orang membuat peta periaku itu dengan perilaku yang buruk, padahal sesungguhnya perilaku tersebut bersifat netral, apakah perilaku itu dikatakan buruk atau baik, tergantung map yang menerima informasi itu, namun bila seseorang mengatakan bahwa perilaku itu buruk, maka itu adalah hasil respon orang tersebut terhadap perilaku tersebut sesuai dengan map yang ada pada pikirannya, kembali lagi berdasrka pengalaman, keyakinan dan nilai-nilai yang ada pada orang pada umumnya tentang perilaku baik dan perilaku buruk.. Boleh jadi ada orang lain yang merespon bahwa perilaku itu baik menurut map mereka, Predikat buruk dan baik adalah hasil respon dari map seseorang tentang informasi perilaku itu sendiri. Padahal kita memiliki kebebasan untuk membuat map terhadap informasi yang namanya perilaku itu. Bisa saja kita buat map perilaku itu sebagai map yang lucu, atau yang lain, sehingga respon yang kita ambilpun pasti berbeda dengan yang sebelumnya. Bila kita memahami hal tersebut diatas dengan baik, maka kita akan menjadi manusia yang pro aktif. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw., ketka mendapatkan perlakuan buruk dari musuh-musuh beliau. Dalam salah satu kisah diceritakan bahwa setiap pagi di depan pintu rumah Rasulullah dilempari sampah oleh salah seorang tetangganya, dengan sabar Rasulullah membuang sampah-sampah itu, demikian seterusnya hal itu berlangsung setiap hari. Suatu hari Rasulullah tidak menjumpai sampah itu lagi di depan pintu rumah beliau, lalu beliau bertanya kepada tetangga yang lain tentang orang yang biasa melemparkan sampah itu, dikatakan bahwa orang tersebut sedang sakit. Mendengar berita itu, Rasulullah memerintahkan kepada Fatimah anak beliau untuk membuat masakan yang enak, kemudian dibawakan kepada orang yang sedang sakit itu. Fatimah sempat membantah, namun dengan pemahaman yang kuat bahwa peta bukanlah wilayahnya, Rasulullah terus memerintahkan Fatimah. Ketika masakan itu diberikan oleh Rasulullah kepada orang tersebut sambil menjenguknya, orang tersebut seketika itu juga menangis dan memnta maaf, bahkan menyatakan kesaksiannya mengikuti ajaran Rasulullah saw. yaitu al Islam.
Hal ini pun diperkuat dengan turunnya ayat al-Qur’an pada Surat al-Kaafirun, ayat 2 s/d ayat 6 yang artinya “ Tidaklah aku meneyembah apa yang kalian sembah; dan tidaklah kalian menyembah apa yang aku sembah; dan tidaklah aku menyembah apa yang kalian sembah; bagi kalian agama kalian dan bagi aku agamaku”.

Luar biasa dahsyatnya bila ummat ini mengikuti ajaran Allah dan Rasulnya dengan menggunakan Asumsi NLP ini., bahwa Peta bukanlah wilayahnya, sehingga Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin akan lebih mudah diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan kerukunan antar ummat beragama akan lebih mudah terwujud bila ummat yang lain juga memahami dan menerapkan Asumsi ini.

Peta bukanlah wilayah nya dapat juga difahami dengan persepsi atau paradigma seseorang tentang sesuatu, karena disebut paradigma karena ia merupakan peta atau asumsi tentang sesuatu. Katakanlah seseorang memiliki paradigma tentang kota Jakarta, sesungguhnya itu bukanlah kota Jakarta yang sebenarnya, ia hanya gambaran sebagian kecil dari kota Jakarta, misalkan sekedar petunjuk nama-nama jalan, lokasi gedung-gedung yang penting diketahui, dan lain sebagainya. Demikian halnya Paradigma anda tentang perilaku orang lain, apa yang ada didalam benak anda tentang perilaku orang lain, bukanlah perilaku yang sesungguhya orang tersebut, melainkan sebagian kecil dari perilaku yang sesungguhnya, karena informasi atau pengetahuan anda tentang orang tersebut baru sebatas yang ada pada anda. Demikian pula dengan phenomena alam seperti bencana alam Banjir, Gempa, Tanah Longsor, Kebakaran dan lain sebagainya, bila kita gunakan Asumsi ini dalam meresponnya, insya Allah keyakinan kita kepada Takdir Allah semakin mantap, karena respon kita tentang kejadian-kejadian tersebut dapat menggunakan map-map yang lain yang memberdayakan kita sendiri.
Bila Paradigma atau persesepsi atau asumsi kita identikkan dengan evaluasi (penilaian), maka sangat tepat bila orang yang memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang terbatas, belum dapat dinilai atau menilai sesuatu itu diluar yang diketahuinya, atau dengan kata lain seseorang yang pengetahuannya tentang sesuatu lebih rendah tidak dapat menilai orang lain yang memiliki pengetahuan lebih tinggi tentang sesuatu tersebut. Hal ini banyak kita jumpai di tengah-tengah masyarakat sosial, bahwa sering terjadi seorang yang tidak banyak tahu soal agama, soal politik, soal keuangan, dan soal-soal lainnya, dengan seenaknya menilai orang-orang yang memang telah memiliki kelebihan yang dimilikinya, dengan menggunakan tools ( alat penilai ) yang mereka miliki yang sangat terbatas itu. Akhirnya jadilah hal itu perbuatan yang sia-sia belaka, bukan jarang terjadi merupakan bahan baku terjadinya kerusuhan atau kekacauan di tengah-tengah masyarakat, namun bila dikembalikan kepada peta bukanlah wilayahnya, hal seperti itu tidak akan terjadi. Hal seperti ini akan selalu memunculkan husnuzhon dikalangan ummat manusia. Namun sebaliknya, bila pengetahuan dan keyakinan seseorang yang sangat terbatas mengadakan penilaian sesuai dengan kapasitasnya, boleh jadi akan memunculkan sifat Suuzhon, yang jelas-jelas hal ini sangat dilarang oleh allah SWT. ( 49 : 12 )
Menarik bila kita simak kisah nabi Yusuf a.s., ketika beliau lebih memilih penjara dibandingkan bersenang-senang dengan istri pembesar kerajaan. Secara umum map (paradigma) orang banyak, bahwa penjara itu tempat yang sangat menyiksa, segalanya serba terbatas dan lain sebagainya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, itulah map (paradigm) dari kebanyakan orang), namun tidak demikian bagi nabi Yusuf, bagi beliau bahwa penjara tempat yang cocok untuk menghindari diri dari perbuatan ma’shiyat, didalam penjara beliau bisa merasa lebih dekat dengan Tuhannya, bahkan dari dalam penjara pula beliau dapat mentawilkan mimpi sang raja, inilah map beliau tentang penjara. Pertanyaannya adalah apakah map orang banyak atau map nabi Yusuf yang benar tentang penjara , keduanya sama-sama merespon mapnya masing-masing bukan merespon realitasnya yaitu penjara, dalam hal ini kita tidak bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah, karena mereka merespon dengan menggunakan map masing-masing.

2. Di balik setiap perilaku ada maksud positif.

Keunikan manusia ciptaan Allah SWT. masih saja terus dikaji oleh para ahli, karena terrnyata masih banyak rahasia penciptaan manusia yang belum ditemukan oleh manusia sampai abad ini. Baik penemuan dalam hal anatomi tubuh manusia dan fungsi-fungsinya maupun tabi’at-tabi’at (perilaku) manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya, maupun dengan alam dan Penciptanya. Salah satu rahasia yang baru ditemukan dalam hal tabi’at manusia adalah bahwa “dibalik setiap perilaku ada maksud positif” Sesungguhnya hal yang demikian sudah berlangsung sejak manusia diciptakan, namun dengan pengalaman empiris yang terus diamati, telah disimpulkan bahwa pada hakekatnya menurut fitrahnya memang manusia seperti itu adanya. Hal tersebut diatas sesungguhnya telah diinformasikan oleh sang Pencipta, Allah SWT. Baik melalui FirmanNya, ataupun lewat perkataan RasulNya Muhammad saw.., namun sedikit sekali manusia yang mau dan mampu mengkaji isi kandungan al-Qur’an yang syarat dengan informasi-informasi tentang manusia itu sendiri. Salah satu Firman Allah SWT. Yang berkenaan dengan hal tersebut diatas, dapat kita lihat pada surat al-Baqoroh (2) aya 216 yang artinya “ Boleh jadi kamu membenci sesuatu akan tetapi ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu akan tetapi ia buruk bagimu.” Firman diatas menunjukkan bahwa bila sesuatu itu kita misalkan perilaku seseorang, maka sesuatu yang tidak disukai berarti suatu perilaku yang buruk (negatif), akan tetapi Allah sebagai pencipta manusia sangat mengetahui, bahwa dibalik keburukan itu terkandung maksud baik ( positif ). Orang yang melakukan perilaku, memiliki maksud positif di tingkat struktur dalam. ( deep structure).
Ketika kita ingin mengubah perilaku atau kebiasaan yang tidak diinginkan, dan bergerak ke arah penyembuhan ( perilaku yang diinginkan ), perlu untuk menemukan struktur dalam atau tujuan asli di balik perilaku. Lalu kita membuat pilihan dengan perilaku yang lebih baik pada Struktur luarnya ( Suface Structure ) agar dapat mempertahankan niat positif tersebut.
Masih banyak lagi dalam contoh kehidupan manusia, misalkan seorang pencuri, yang mencuri, artinya ia mengambil sesuatu yang bukan haknya, secara kasat mata ( surface structure ) perilaku tersebut memang negative, ditinjau dari sudut manapun, apakah sudut pandang agama, maupun sudut pandang hukum positif dimanapun. Namun bila kta melihat kepada struktur dalam dari perilaku pencuri tersebut, pasti kita segera menemukan kehendak positifnya, misalkan saja ia ingin menafkahi anak dan istrinya, atau ia ingin menolong orang lain yang kesusahan dan lain sebagainya, ini yang kita sebut dengan Struktur dalamnya.
Bila kita memahami struktur dalam (Deep Structure) dari perilaku seseorang, maka dalam menyikapi suatu perilaku negative, kita akan lebih berhati-hati, terutama dalam menentukan hukuman bagi yang melakukan perilaku negative tersebut, sehingga rasa keadilan yang juga merupakan hak bagi setiap manusia dapat terpenuhi.
Hal serupapun daapat terjadi pada setiap profesi atau pengalaman pribadi. Ada satu peristiwa menarik, ini terjadi pada seorang yang memiliki hutang kepada orang lain, pada tataran struktur luar, terkesan orang ini tidak bertanggung jawab untuk membayar hutangnya, karena setiap kali dihubungi ia selalu menghindar, namun setelah ditemui dan diklarifikasi mengapa ia selalu menghindar setiap dihubungi, ia mengatakan sesungguhnya selama ini ia ingin sekali segera membayar hutang tersebut, sehingga siang malam ia mencarai uang untuk membayar hutangnya terebut, ia berkata didalam hatinya, nanti kalau sudah dapat, langsung saya antar uang ini kepada orang yang ia berhutang kepadanya ( ini adalah Deep Structure ), namun hal ini tidak diketahui oleh siapapun, karena ia melakukan self talk ( berbicara sendiri ), akhirnya setelah diklarifikasi ternyata perilakunya itu terkandung kehendak positif, namun tidak nampak oleh orang lain karena tidak dikomunikasikannya dengan baik.
Dengan demikian bila kita fahami benar presupposisi ini, bahwa dibalik setiap perilaku terkandung kehendak positif, niscaya kita akan lebih fleksibel dalam melihat setiap masalah yang masalah itu diakibatkan oleh perilaku seseorang, baik itu oleh keluarga kita sendiri maupun oleh orang lain. Perilaku yang Fleksibel inilah yang sesungguhnya yang diharapkan dapat membangun dan memberdayakan peradaban manusia.

3.Setiap Orang hidup dalam model unik mereka tentang dunia

Keunikan manusia baik sebagai sesama makhluk Allah, terdapat pada dianugrahkannya manusia dengan akal yang digunakan untuk berfikir, yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya, demikian pula antara sesame manusia sendiri, masing-masing manusia memiliki keunikan sendiri-sendiri, hal inilah yang dimaksudkan dalam asumsi ini.
Bahwa keunikan tiap individu manusia diakaui memang jelas ada, salah satu contoh sederhana saja kita ketahui tentang sidik jari, diyakini bahwa tidak ada satupun manusia yang memiliki sidik jari yang sama, itulah sebabnya sering dijadikan identitas diri setiap orang, terutama dalam masalah keamanan.
Keunikan lain yang mampu menggerakkan kehidupan manusia dan menjadi potensi yang tidak dimiliki oleh manusia lain, belum banyak diketahui oleh manusia, manakala seorang manusia telah mengetahui potensi keunikan dirinya, maka ia akan mendapatkan kesempatan lompatan kesuksesan hidup yang luar biasa, betapa tidak, bila ia mengetahu keunikannya dalam bidang bisnis, maka keunikan bisnisnya pasti tidak dimiliki orang lain dan dengan potensi ini Ia akan dapat mengembangkan bisnisnya tersebut yang nyaris tanpa saingan, kembali lagi bila keunikan ini benar-benar dikembangkan dan diberdayakan.
Itulah seb abnya asumsi bahwa manusia hidup dalam model keunikannya tentang duniaini telah diakui oleh kebanyakan orang dan dijadikan modal dasar dalam pengembangan sumber daya manusia itu sendiri. Betapa banyak orang orang sukses dunia yang telah menemukan keunikannya dan berhasil mengembangkannya. Tugas kita sekarang adalah bagaimana kita menemukan keunikan kita sendiri agar kita hidup lebih berdaya dalam menjalani hidup di dunia ini.
Keunikan yang sangat jelas yang telah ditampilkan oleh sosok Rasulullah saw. Dalam peri kehidupan beliau, sejak beliau kecil, beliau remaja, beliau dewasa, bahkan sampai beliau diangkat sebagai Rasulullah. Oleh karena hal itulah Michaek H Heart telah berani menempatka Muhammad Rasulullah sebagai orang nomor 1 ( satu ) dunia yang paling berpengaruh terhadap kehidupan manusia, dalam bukunya 100 tokoh orang yang paling berpengaruh di dunia. Hal ini tak lain karena beliau telah mempelajari keunikan-keunikan yang ditampilkan Muhammad Rasulullah saw. Dalam sejarah kehidupannya.

4. Pengalaman itu mempunyai Struktur.

Sejak Panca Indra Manusia berfungsi secara sempurna, maka sejak itu pula mulai menerima informasi melalui Panca Indra tersebut yang berfungsi sebagai alat sensor. Informasi yang masuk kemudian tersimpan di dalam memori, yang kemudian disebut pengalaman. Memori itu sendiri tersimpan di dalam pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar juga menyimpan hal-sebagai berikut :
1. Memori, yaitu ingatan kita dari kecil sampai sekarang
2. Self Image, yaitu citra diri kita
3. Personality, yaitu Kepribadian kita
4. Habit, yaitu kebiasaan-kebiasaan kita

Kapasitas Pikiran bawah sadar atau perasaan yang 88 % besarnya ini sering tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kebanayakan dari kita terpaku dengan pikiran sadar yang kapasitasnya hanya 12 % saja. Selama ini, karena keterbatasan informasi,pikiran bawah sadar sering keliru difungsikannya karena dibiarkan pasif hanya untuk menampung rekaman memori, kebiasaan, nilai-nilai sosial, dan doktrin yang terakumulasi sejak kecil lewat proses pendidikan dan pengajaran yang selama ini kita terima, yang tanpa pernah kita sadar memeriksanya apakah semua rekaman informasi di hard disk bawah sadar itu benar atau salah.
Pegalaman yang merupakan memori informasi memiliki struktur sesuai dengan kodisi emosi seseorang disaat menerima informasi tersebut. Struktur Pengalaman baik dapat berfungsi lebih memberdayakan manusia bila manusi mampu mengelola pengalaman tersebut dengan teknik-teknik tertentu, sementara struktur pengalama buruk berdampak ketidak berdayaan manusia bila dibiarkan terus seperti itu, namun bila manusia mengetahui teknik-teknik tertentu untuk mengeliminir pengalaman buruk tersebut, pengalaman buruk itu akan hilang dan manusia akan menjadi lebih berdaya. Itulah sebabnya para penemu dan praktisi NLP.berusaha keras untuk menciptakan dan mempraktekkan teknik-teknik pengolahan pikiran bawah sadar agar manusia dapat mengeliminir pengalaman buruk tersebut. Hal ini diyakini praktisi NLP. Bahwa pengolahan pikiran bawah sadar dilakukan dengan merubah struktur pengalaman seseorang bukan konten pengalamannya. Asumsi yang sejalan dengan asumsi ini adalah asumsi “ Peta bukanlah wilayahnya ” ( The Map is not Therotery ) atau “ Setiap perilaku ada kehendak positifnya “. ( Struktur luar dan struktur dalam )

5. Apa pun dapat dicapai apabila tugas atau keinginan dipecah menjadi potongan-potongan yang cukup kecil.

Yang dimaksudkan adalah "chunked" ( chunking down ) menjadi potongan-potongan yang merupakan ukuran dikelola individu atau sistem.
Bila kita memiliki keinginan atau Outcome yang besar, sepanjang keinginan atau Outcome itu realistis dan ekologis, maka sangat mungkin keinginan atau Outcome itu dapat dicapai. Namun tidak mungkin keinginan yang besar tersebut dapat dicapai sekaligus tanpa melalui proses pencapaian yang kecil-kecil terlebih dahulu. Sama halnya ketika kita diminta untuk menghabiskan satu kilo daging goreng, bila daging satu kilo gram tersebut kita makan sekaligus kita tidak akan mampu menghabiskannya, namun bila daging tersebut kita potong-potong dengan potongan yang kecil-kecil, dan kita makan dalam beberapa kali makan, sangat mungkin daging satu kilo tersebut habis kita makan, proses seperti ini kita sebut dengan chunking dowan. Demikian halnya dengan keinginan yang besar ataupun tugas yang berat, bila kita chunking down keinginan atau tugas tersebut dapat dicapai atau dapat diselesaikan dengan baik.
Menarik yang diungkapkan oleh AA Gym yang terkenal dengan 3 M, yaitu Mulailah dari yang kecil-kecil, Mulailah dari diri sendiri dan Mulailah sekarang juga. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang besar dapat dicapai bila dimulai dari yang kecil-kecil, mulai dari diri sendiri dan sesegera mungkin. Demikian halnya dengan kerja da’wah, untuk mendapatkan hasil da’wah yang besar dan menyeluruh, Rasulullah mencontohkan memulai dari da’wah fardhiyah, yaitu da’wah individu per individu, bila hal ini dilakukan dengan istiqomah yanag dimulai dari diri sendiri dan sesegera mungkin, maka hasil da’wah yang besar dan menyeluruh dapat dicapai, Ini dibuktikan oleh da’wah yang dilakukan Rasulullah yang puncaknya terbentuknya masyarakat Madani yang merupakan prototype masyarakat Islam yang belum ada tandingannya hingga saat ini.
Da’wah Rasulullah dimulai dari orang-orang terdekat beliau, seperti istri beliau Khadijah, Sepupu beliau Ali bin Abi Tholaib, Abu Bakar seorang sahabat setia, Hamzah paman beliau dll. Baru kemudian ketika sudah banyak yang mendukung Da’wah beliau termasuk masuknya Umar bin Khottob ke dalam jajaran pemeluk Islam, Da’wah dilakukan dengan terang-terangan sehingga mempercepat keberhasilan Da’wah yang akhirnya sampai kepada kita saat ini.

6. Tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya umpanbalik.

Semuanya adalah sebuah kesempatan belajar untuk mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak berhasil. Penting untuk perilaku yang terpisah dari identitas diri.
Sering orang mengeluh bahwa usaha yang dilakukan selama ini selalu gagal, sampai-sampai rasa frustrasi menyelimuti dirinya. Di NLP. Tidak dikenal kata gagal, karena alam bawah sadar kita tidak mengenalnya, yang ada adalah perlu cara lain untuk mencapai keberhasilan usaha seseorang. Perlu diketahui untuk mencapai keberhasilan tidak ada batas jumlah cara yang harus ditempuh. Bila kita pelajari bagaimana Thomas alfa Edison menemukan listrik, baru dia mendapatkan kesimpulan dari percobaan percobaanya pada percobaan yang ke 10.001 kali. Singkatnya tidak ada keinginan yang tidak bisa dicapai, masalahnya hanya cara dan waktunya saja.
Demikian pula dengan Rasulullah saw. tidak pernah merasa gagal dalam berda’wah untuk kaumnya. Awalnya beliau berda’wah dengan sembunyi-sembunyi, walaupun hasilnya hanya beberapa orang saja yang mendapat hidayah mengikuti da’wah beliau, beliau tidak merasa gagal, beliau terus berda’wah dan berdo’a, sampai akhirnya salah satu Umar memeluk Islam, yaitu Umar bin Khottob, berkat kegigihan beliau berda’wah dan secara khusus berdo’a agar Allah SWT. Membuka hati salah satu Umar dari 2 Umar ( Umar bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khottob untuk mendukung da’wah beliau.
Sejak saat itu da’wah beliau mendapatkan dukungan yang kuat yang ditandai dengan dimulainya da’wah jahar ( terang-terangan ).
Suatu peristiwa yang cukup membuat Rasulullah tersentak, yaitu ketika para pembesar Quraisy meminta Abu Tholib paman beliau untuk menawarkan kepada beliau tentang 3 (tiga) hal asal beliau mau menghentikan da’wah belian mengajarkan ajaran Islam. Tawaran tersebut adalah Tahta, Harta, dan Wanita. Bila saja Rasulullah tidak dalam bimbingan Allah SWT., niscaya gagallah Da’wah Rasulullah karena menerima tawaran yang begitu menggiurkan itu.
Tawaran tersebut direspon oleh beliau dengan pernyataan yang sangat terkenal yaitu :” Kalau saja mereka meletakkan Matahari di tangan kananku dan Rembulan di tangan kiriku agar aku berhenti dalam da’wah ini, niscaya aku tidak akan hentikan da’wah ini”. Pertanyaannya adalah mengapa Rasulullah sampai mengeluarkan pernyataan tersebut? Jawabnya sederhana, karena Rasulullah tidak mengenal kata gagal dalam Da’wah, beliau sangat yakin bahwa kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. pasti dapat ditegakkan dan kebathilan pasti akan hancur. Disamping itu beliaupun meyakini bahwa setiap rintangan yang beliau hadapi, hanyalah umpan balik yang dapat dijadikan pelajaran untuk langkah-langkah selanjutnya.

7. Setiap orang sudah memiliki semua sumber daya yang mereka butuhkan.

NLP mengasumsikan bagaimana untuk mengakses sumber daya tersebut pada waktu dan dengan cara yang tepat.
Bila hal ini diyakini, niscaya apapun yang ia ingin lakukan, pada dirinya telah ada sumber daya yang tersedia untuk melakukan apa yang diinginkannya, karena sebagai suatu system yang sempurna, manusia telah dibekali seperangkat sumber daya yang dapat digunakan untuk melakukan apa saja dalam kehidupannya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah SWT. Di dalam al-Qur’an pada surat At-Tin, ayat 4, yang artinya “ Sungguh telah Aku ciptakan manusia dalam sebaik-baik kejadian”. Dan perhatikan pula al-Qur’at surat 17 (al-Isra) ayat 70. Dengan demikian tidak ada bedanya antara manusia yang satu dengan manusia lainnya dalam hal sumber daya. Artinya bila seseorang dapat melakukan sesuatu, maka orang lainpun mampu melakukannya. Bila ada yang tidak mampu, karena ia tidak tau atau ia tidak mau, bila mau pasti mampu.
Lebih jauh Allah SWT. Telah memberikan jaminan kemuliaan bagi Manusia manakala manusia itu mngetahui dan menyadarinya. Hal ini dijelaskan di dalam al-Qur’an, surat Al-Isra(17) ayat 70, yang artinya : “ Dan Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam; dan Kami telah beri mereka menggunakan berbagai-bagai kenderaan di darat dan di laut; dan Kami telah memberikan rezeki kepada mereka dari benda-benda Yang baik-baik serta Kami telah lebihkan mereka Dengan selebih-lebihnya atas banyak makhluk-makhluk Yang telah Kami ciptakan”.
Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki potensi yang sama yang diberikan Allah SWT. Hanya saja apakah manusia itu tau atau memahami atau mau mengembangkan potensi tersebut, kembali terpulang kepada manusia itu sendiri.


8. Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, siapa saja bisa belajar melakukannya..

NLP model keunggulan. Adalah mungkin untuk menemukan komponen dan strategi yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu dan mengajarkannya kepada orang lain.
Sangat mungkin hal ini terjadi, bial kita perhatikan asumsi ke 5, maka untuk meraih keberhasilan sebagaimana yang telah diraih oleh orang lain, tinggal meniru caranya saja, dengan kata lain kita memodel cara orang itu.
Hal ini membesarkan hati kita untuk mengembangkan kinerja kita dan menembus tembok keyakinan apa saja yang mungkin kita bisa lakukan. Bukan hanya kegagalan yang bisa menghambat kinerja,tetapi juga kesadaran diri kita tentang keterbatasan diri. Kenyataannya, batas yang kita persepsikan itu bukanlah batas nyata. Dalam realitas, kita sebenarnya mempunyai potensi yang boleh dikata tidak ada batas.
Memang tidak sepenuhnya benar bila kita mengatakan bahwa “Jika seseorang bisa melakukannya, maka siapa saja bisa melakukannya”, kadang-kadang ada alas an fisik, psikhologis, dan praktis yang mungkin menjadi kendala.
Namun demikian, adalah benar bila kita katakan “ Jika ada seseorang bisa melakukannya, maka siapa saja bisa belajar melakukannya”. Dengan demikian Presupposisi ini menjadi sangat kuat.

9. Utusan tidak pernah sampai pada pesan yang disampaikan.

Berbeda dengan utusan Allah SWT. Yang harus mengetahui dan memahami pesan yang akan disampaikan lebih dahulu baru kemudian menyampaikan pesan itu kepada obyek pesan itu sendiri, yaitu sebuah ummat, Hal ini lebih disebabkan nilai pesan yang disampaikan bersifat suci dan sakral yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan pada khususnya dan alam pada umumnya. Sedangkan utusan yang dimaksud pada asumsi ini adalah bagaimanapun seorang utusan tidak akan pernah memahami sepenuhnya maksud dari si pembuat pesan, karena disana ada asumsi-asumsi yang berbeda tentang suatu hal antara si pembuat pesan dengan utusannya. Ingat realitas internal tidak sama dengan realitas eksternal.
Itulah sebabnya di dalam Islam tingkatan al-Qur’an yang merupakan pesan dari Allah SWT. Yang diamanahkan kepada sang Utusan ( Rasulullah saw. ) tingkatannya lebih tinggi dari Sabda Rasulullah ( Hadits ), apalagi perkataan sahabat dan Ulama. Sepanjang tidak bertentangan dengan pesan yang ada dalam al-Qur’an, maka pesan yang disampaikan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh para perawi hadits, maka pesan itu dapat dibenarkan, namun bila sedikit saja ada pertentangan antara keduanya, maka kebenaran pesan tersebut perlu diragukan keabsahannya. Itulah sebabnya maka muncul ilmu yang disebut dengan Mustholaal Hadits, yaitu ilmu yang mempelajari seluk beluk keabsahan hadits.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak pernah luput dari aktifitas menyampaikan dan menerima pesan, seringkali pesan itu mengalami tiga hal, yaitu generalisation; distorsion dan deletion. Pertanyaannya adalah dimana terjadi tiga hal tersebut, sangat mungkin terjadi di semua fihak, apaka pada si pembuat pesan, si pembawa pesan (utusan) atau si penerima pesan itu sendiri. Hal ini dikarenakan setiap manusia ketika akan menyampaikan atau menerima informasi dipengaruhi oleh filter-filter yang ada pada dirinya, yaitu keyakinan-keyakinan, nilai-nilai dan pengalaman hidup, sehingga bila informasi ini dijadikan sebuah pesan, sangat mungkin mengalami tiga hal tersebut diatas.pada semua fihak.
Dengan demikian sangat benar asumsi ini bahwa utusan tidak pernah sampai pada pesan yang disampaikan.
Menyikapi asumsi ini kita lebih dapat memaklumi bila hal itu terjadi, itulah sebabnya Allah SWT. Telah memperingatkan kepada Ummat manusia agar berhati-hati dalam menerima informasi, terutama bila informasi itu datangnya dari orang-orang yang rusak keimanannya, hal ini termuat di dalam al-Qur’an, surat al-Hujurat, ayat 6, yang artinya : “ Wahai orang-orang Yang beriman! jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum Dengan perkara Yang tidak diingini - Dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) - sehingga menjadikan kamu menyesali apa Yang kamu telah lakukan”.
Dalam ayat tersebut diatas, jelas sekali Allah SWT. Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman bahwa setiap informasi yang kita terima tidak ada jaminan tentang kebenarannya, karena memang Allah SWT. sangat mengetahui bahwa karakter manusia pada umumnya cenderung melakukan distorsi (merusak) informasi, atau deletion (menghilangkan) informasi atau generalisation ( menjeneralisir) informasi. Dan hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat menyaring kebenaran informasi tersebut atas bimbingan Allah SWT

10 Makna komunikasi Anda adalah respons yang Anda dapatkan.

Komunikasi menciptakan sebuah pengalaman bagi pendengar atau pembaca. Hasilnya adalah respon yang kita peroleh. Memancing. tanggapan yang mungkin belum tentu sesuai dengan apa yang kita maksudkan. Untuk berkomunikasi seseorang harus memahami betul kaidah-kaidah komunikasi bila menginginkan respon yang sesuai dengan apa yang diinginkan. Diantara kaidah itu adalah memahami betul bahwa orang yang diajak berkomunikasi juga adalah manusia yang memiliki keunikan masing-masing, namun bila memahami sebagian saja asumsi-asumsi dasar NLP., mungkin saja apa yang diharapkan dapat dicapai.
Kegiatan Da’wah adalah kegiatan yang sangat kental dengan komunikasi, untuk itulah Rasulullah saw. Sebagai uswatun hasanah dalam segala hal, mencontohkan bagaimana berkomunikasi dalam berda’wah kepada ummat yang dida’wahinya. Diantaranya adalah anjuran Rasulullah dan sekaligus mencontohkan bagaimana berbicara kepada ummat, sebagaimana haditsnya “ Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal fikirannya “. Sedangkan Allah SWT. Memerintahkan melalui alQur’an, “ Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, keteladanan dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang santun “.
Dengan pedoman-pedoman diatas, Rasulullah telah membuktikan efektifitas komunikasi da’wahnya, terutama setelah beliau hijrah ke Madianah, dalam waktu 10 tahun, hasilnya dapat dirasakan ke seluruh jazirah Arab dan sampai ke Eropa.

11. Setiap orang selalu berkomunikasi

Kita selalu mengirimkan pesan dalam ketiga modalitas sensorik utama, yaitu Penglihatan ( visual ), Pendengaran ( Auditory ), dan Perabaan ( Kinestetik ) Apapun yang kita lakukan, baik verbal maupun nonverbal, bias berdampak kepada orang lain disekitar kita. Penelitian membuktikan bahwa lebih dari 70 % komunikasi kita bersifat nonverbal. Jika kita melihat orang duduk diam sendirian, dalam sekejap tentu kita mempunyai kesan yang berbeda tentang orang tersebut. Apapun kesan itu, yang pasti kita berusaha memaknai kesan tersendiri tentang orang tersebut. Otak dan tubuh kita adalah bagian dari system yang sama. Pikiran yang ada di otak kita bias berdampak pada fisiologi kita, lalu “bocor” dalam bentuk sinyal-sinyal nonverbal.
Untuk itulah kita harus bisa berkomunikasi sejelas dan seakurat mungkin agar hasil dari komunikasi itu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hal ini bisa saja kita visualisasikan komunikasi kita dalaam sebuah majlis, yang dapat kita seting sesuai dengan keinginan kita, apakah dalam hal lingkungannya, behaviournya, atau pemilihan kata-katanya. Sehingga ketika pada waktunya tiba, hasilnya persis seperti apa yang kita inginkan. Akan tetapi komunikasi nonverbal yang kita visualisasikan jangan terlalu rigit/detail, setidaknya kita menyediakan ruang untuk komunikasi yang real pada waktunya tiba, mengingat lingkungan dan behaviour yang kita seting tidak selalu persis seperti apa yang kita harapkan, akan tetapi setidaknya kita sudah melakukan sebuah komunikasi nonverbal yang efektif, tinggal lagi komunikasi verbal yang kita lakukan .

12. Satu Pilihan adalah lebih baik daripada tidak ada pilihan.

Elemen yang paling fleksibel dalam suatu sistem adalah yang paling banyak kontrolnya.
Richard Bendler, salah seorang penggagas NLP. Pernah berkata bahwa “ Inti dari NLP. Adalah mempunyai banyak pilihan.” Sebagian besar teknik-teknik NLP. Selalu dihubugkan dengan memperbanyak pilihan-pilihan, bahkan memiliki satu pilhan jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Salah satu contoh teknik NLP yang menggunakan banyak pilihan adalah therapy phobia. Misalkan seseorang phobi bila melihat kecoa, orang itu menjadi panik karena jijik , seolah-olah orang itu tidak memiliki pilihan lain saja. Pada saat melihat kecoa, bukankah orang itu dapat membuat pilihan lain dengan mengalihkan pandangan atau focus ke obyek lain, seperti melihat pemandangan sekitarnya yang tidak memicu perasaan phobia. Dengan demikian semakin banyak pilihan yang kita miliki semakin banyak kebebasan yang kita miliki dalam menjalani kehidupan.
Hidupkita ini memang diisi dengan berbagai macam pilihan, hamper tidak pernah kita tidak memilih, karena pada hakikatnya memilih adalah mengambvil keputusan, dan mengambil keputusan itu merupaka suatu kebutuhan, sehingga bila seseorang tidak dapat mengambil keputusan tentang sesuatu berarti dia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya.
Islam telah mengajarkan kepada ummatnya dalam hal memilih atau membuat keputusan tentang dua hal yang berbeda, yaitu dengan melakukan Sholat Istihoroh, dengan Sholat istihoroh diharapkan seorang Muslim mendapatkan ketetapan hati dari Allah SWT. Untuk memilih satu dari dua pilihan yang berbeda. Seoran Muslim tidak diperkenankan untuk tidak memilih sama sekali.
Bahkan Islampun mengajarkan banyak pilihan, seperti dalam hal-hal syari’at beribadah, Ummat Islam dapat memilih satu dari banyak pilihan yang dicontohkan rasulullah saw. Seperti di dalam Sholat saja banyak sekali pilihan yang dapat digunakan oleh Ummat Islam, mulai dari Do’a Iftitah, bacaan Surah, bacaan Ruku, bacaan sujud, dan lain sebagainya.
Sehingga bila semua itu difahami sebagai sebuah kekayaan Islam niscaya Ummat Islam menjadi sangat Fleksibel dan menjamin kerukunan hidup beragamanya.

13. Orang selalu membuat pilihan terbaik yang tersedia bagi mereka pada saat itu.

Sering kali ada pilihan yang lebih baik. NLP menemukan pilihan yang lebih efektif dan bagaimana menciptakan lebih bermanfaat atau tindakan dan keyakinan yang diinginkan. Kesempatan yang sama tidak akan berulang dua kali, oleh karenanya, ketika kita memiliki kesempatan untuk membuat pilihan untuk sebuah keputusan, itulah yang terbaik pada saat itu, karena pilihan yang tersedia saat yang lain milik keputusan yang lain pula. Ada pepatah yunani mengatakan, “bahwa kesempatan itu dating dari depan dengan berkepala botak di bagian belakangnya, bila kamu ambil ia dari depan, kau akan meraihnya, itulah yang terbaik bagimu, tetapi bila ia telah berlalu darimu, dewa jupiterpun tak akan sanggup menjambaknya.” Rasulullah bersabda yang artinya “ Jaagalah yang lima sebelum dating yang lima ; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu; Sehatmu sebelum datang sakitmu; Kayamu sebelum datang miskinmu; Masa luangmu sebelum datang masa sempitmu dan Hidupmu sebelum datang matimu”.

14. Jika apa yang Anda lakukan tidak berhasil, lakukan sesuatu yang lain.

Sebuah definisi kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang, mengharapkan hasil yang berbeda. Bagaiman bila hal tersebut dibalik, bahwa lakukan berulang-ulang untuk mendapatkan hal yang sama, hal ini membuat orang selalu terus berusaha sebelum apa yang diingininya tercapai; Simaklah kisah Thomas alpha Edison, beliau melakukan 10.000 kali percobaan yang berbeda untuk mendapatkan sesuatu yang sama yaitu untuk menemukan listrik, walau baru yang ke 10.001 kalinya beliau mendapatkan hasil yang diinginkannya.
Untuk menaklukkan kota Makkah, Rasulullah perlu beberapa cara, dari yang paling lembut, yaitu dengan ajakan, perjanjian-perjanjian, seperti perjanjian hudaibiyah, melalui peperangan, dengan do’a, yang pada akhirnya menggunakan kekuatan Show of Force, yang hasilnya jatuh juga kota Makkah ke pangkuan Ummat Islam tanpa pertumpahan darah. Inilah bukti kekuatan cita-cita/impian yang dibuktikan dengan perjuangan tanpa mengenal menyerah dari Rasulullah dan para sahabatnya.
Asumsi ini membuktikan bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan apapun manusia tidak mengenal kegagalan, yang ada hanyalah umpan balik, bahwa cara yang ditempuh untuk mencapai yang diinginkannya belum tepat, berarti perlu cara lain, cara lain itulah yang terus diusahakan agar apa yang diinginkan dapat dicapai. Cara mudah untuk mendapatkan cara lain adalah dengan 2 ( dua ) cara, yaitu: Pertama dengan menggunakan metoda TOTE ( Test, Operate, Test, Exit ), artinya selama hasil belum didapatkan, kita terus melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang berbeda selama belum mendapatkan hasil, pantang berhenti, baru kemudian bila kita dapatkan satu cara yang membuahkan hasil, batu kita Exit.
Kedua, berlaku untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang telah dilakukan orang, misalkan ingin menancapkan bendera merah putih di puncak gunung tertinggi didunia, maka cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan cara orang lain yang telah lebih dulu berada disana, bial orang lain bisa kitapun pasti bisa, karena kita memiliki sumber yang sama Hal ini dapat dipakai untuk hal-hal yang lain, seperti inging menjadi orang kaya sukses, pejabat sukses, Guru Sukses, Trainer Sukses, olahragawan sukses, dan lain sebagainya. Kita dapat belajar dari mereka atau buku-buku yang ditulis mereka atau buku-buku yang ditulis tentang mereka.
Bagi seorang Muslim sangatlah mudah bila ingin menjadi Muslim yang baik, tidak perlu menggunakan cara pertama, melainkan cukup memnggunakan cara kedua saja, karena menjadi Muslim yang baik sudah banyak dicapai oleh para pendahulu kita yang lebih dahulu meraihnya, seperti Teladan Rasulullah saw., para Sahabat, para Tabi’in, Tabiit tabi’in, para mujahddid dan mujahid, para ulama-ulama besar yang semuanya itu telah ditulis atau mereka menulis sendiri, bagaimana menjadi Muslim yang baik bahkan yang diridhoi oleh Allah SWT. Rasulullah pernah bersabda yang artinya:” Aku tinggalkan 2 (dua) perkara, bila kalian memegang teguh dua perkara tersebut, niscaya tidak akan sesat hidupmu selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah-sunnahku”. Dari hadits tersebut jelas bahwa al-Qur’an dan Sunnah Rasul merupakan pedoman utama bagi seorang Muslim dan telah mendapat jaminan dari Rasulullah sendiri. Dengan demikian mengikuti cara siapapun kita untuk menjadi Muslim yang baik, sepanjang yang kita ikuti caranya itu juga mengikuti al_Qur’an dan Sunnah-sunnah Rasul, insya Allah keinginan itu dapat kita raih. Walllahu a’lam bishowaab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar